Kefamenanu, 16 Oktober 2025 – Universitas Timor (Unimor) kembali mencatat sejarah penting dalam perjalanan akademiknya. Hari ini, dua dosen terbaiknya resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar, yakni Prof. Dr. Ir. Charles Venirius Lisnahan, S.Pt., M.P., IPU dalam bidang Ilmu Ternak Unggas/Usaha Budidaya Unggas, dan Prof. Dr. Ir. Paulus Klau Tahuk, S.Pt., M.P., IPU dalam bidang Ilmu Produksi Ternak Potong.
Dengan pengukuhan ini, Unimor kini memiliki tiga profesor aktif, bersama Prof. Dr. Sirilius Seran, SE, MS, yang telah dikukuhkan pada 7 Oktober 2017. Pengukuhan Prof. Sirilius kala itu tercatat dalam liputan Pos Kupang pada Rapat Senat Terbuka di Aula Biinmaffo, menandai awal tradisi akademik bergengsi di universitas yang tumbuh dari wilayah perbatasan NKRI–RDTL ini.
Momen pengukuhan dua guru besar ini menegaskan arah perjalanan Unimor sebagai kampus yang tumbuh dari perbatasan dengan pijakan kuat pada kebutuhan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Keilmuan peternakan unggas dan ternak potong memiliki keterkaitan langsung dengan dapur rumah tangga, gizi keluarga, serta denyut ekonomi lokal. Karena itu, setiap kemajuan di kampus akan cepat terasa di desa-desa.
Bagi sivitas akademika, pengukuhan ini menjadi sumber inspirasi dan optimisme bahwa komitmen panjang pada penelitian, pengajaran, dan pengabdian dapat mencapai puncaknya. Sementara bagi masyarakat luas, momen ini membuktikan bahwa investasi dalam pendidikan tinggi tetap berbuah, bahkan di wilayah terluar negeri.
Prof. Charles Venirius Lisnahan, putra Amarasi, Kabupaten Kupang, dikenal luas melalui riset dan publikasinya di bidang Poultry Science yang terekam di SINTA dan Google Scholar. Kiprahnya meliputi pengajaran, penelitian unggas, serta pengabdian kepada masyarakat melalui inovasi budidaya ayam ras lokal dan manajemen pakan. Sementara Prof. Paulus Klau Tahuk, putra Malaka, fokus pada produksi ternak potong. Ia aktif meneliti efisiensi pakan, penggemukan sapi lokal, serta manajemen peternakan berbasis sumber daya daerah. Penetapannya sebagai Guru Besar bidang Produksi Ternak Potong juga diberitakan oleh media Kabar-Malaka tahun ini. Dua keahlian ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat NTT, di mana unggas dan ternak potong menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga sekaligus penopang ketahanan pangan daerah.
Universitas Timor berakar dari perjalanan Universitas Timor Timur (Untim) yang berpindah ke wilayah Indonesia pasca jajak pendapat di Timor Timur. Unimor secara kelembagaan lahir sebagai perguruan tinggi swasta berdasarkan SK Mendiknas No. 67/D/O/2000 dan SK Yayasan Pendidikan Cendana Wangi No. 01/P/YS/VI/2000, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Negeri melalui Peraturan Presiden Nomor 119 Tahun 2014 yang diundangkan pada 9 Oktober 2014. Dari awal yang sederhana itu, Unimor kini tumbuh menjadi kampus negeri yang kokoh dengan reputasi riset yang semakin kuat di kawasan timur Indonesia.
Kehadiran dua profesor baru ini memperkuat posisi Unimor sebagai pusat riset peternakan tropis kering. Dengan riset yang lebih terarah dan uji terapan yang cepat, transfer pengetahuan kepada peternak rakyat diharapkan berjalan lebih efektif.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor – pemerintah daerah, koperasi, UMKM, dan industri – akan semakin mudah dilakukan karena ditopang oleh data dan publikasi ilmiah yang kredibel. Dalam jangka panjang, reputasi NTT sebagai laboratorium peternakan tropis akan semakin menonjol di tingkat nasional, membuka peluang kerja sama dan mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data SINTA (ID Afiliasi: 524) per 16 Oktober 2025, Unimor memiliki 311 dosen penulis aktif dalam Science and Technology Index. Tiga profesor aktif yang dimiliki Unimor bukanlah tanda keterbatasan, tetapi bukti bahwa jalur menuju puncak akademik terbuka dan dapat ditempuh oleh siapa pun yang konsisten meneliti dan menulis. Teladan dari para guru besar menjadi kompas moral dan intelektual bagi seluruh sivitas. Setiap karya ilmiah, kelas yang rapi, dan proposal penelitian adalah anak tangga kecil menuju lompatan besar. Unimor menegaskan bahwa mutu bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan yang nyata: menyiapkan perkuliahan, menata administrasi, dan merefleksikan hasil kerja secara jujur. Dalam ekosistem yang sehat, revisi naskah menjadi ruang tumbuh, diskusi metodologi menjadi kebiasaan, dan mahasiswa merasakan manfaat langsung dari kelas yang tertata.
Integritas pun menjadi fondasi yang tak boleh retak — dari kejujuran data, kepatuhan sitasi, hingga etika penelitian. Dengan integritas, karya akademik Unimor akan bertahan dan bermanfaat jangka panjang. Kefamenanu, Amarasi, dan Malaka mungkin terdengar jauh bagi sebagian orang. Namun dari wilayah perbatasan inilah Unimor menyalakan cahaya: asal-usul bukan batas, melainkan kekuatan. Unimor menjadi mercusuar ilmu dari perbatasan yang cahayanya menembus batas wilayah, menjangkau ruang kelas, laboratorium, hingga kebijakan publik.
Selamat kepada Prof. Dr. Ir. Charles Venirius Lisnahan, S.Pt., M.P., IPU dan Prof. Dr. Ir. Paulus Klau Tahuk, S.Pt., M.P., IPU atas pengukuhan sebagai Guru Besar Universitas Timor. Teladan mereka menunjukkan bahwa dari perbatasan pun, jalan menuju puncak ilmu terbuka lebar. Bagi seluruh dosen dan sivitas akademika Unimor, mari menjadikan momen ini sebagai titik tolak budaya baru: menulis lebih sering, berdiskusi lebih dalam, dan menjaga integritas di setiap langkah. Karena hari ini bukan sekadar pengukuhan dua profesor, melainkan peneguhan tekad Unimor untuk terus menyalakan nyala ilmu dari timur untuk nusantara.humas_unimor




