Unimor, Kefamenanu — Universitas Timor (Unimor) resmi mengambil bagian dalam pembukaan Governing Board Meeting (GBM) ke-64 SEAMEO BIOTROP (Southeast Asian Ministers of Education Organization – Regional Centre for Tropical Biology), sebuah organisasi pusat regional biologi tropika di bawah naungan Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan Asia Tenggara; dengan tugas pokok antara lain : melakukan penelitian, pelatihan, dan penyebaran informasi di bidang biologi tropika untuk mengatasi berbagai tantangan lingkungan di Asia Tenggara. Adapun program unggulan SEAMAO BIOTROP adalah restorasi dan konservasi ekosistem, pemanfaatan berkelanjutan, dan ketahanan iklim.
Kegiatan yang berlangsung di Aston Kuta Hotel and Residence, Bali, pada Kamis (24/9/2026) ini dihadiri oleh Direktur SEAMEO BIOTROP beserta tim, perwakilan dari 11 negara anggota Asia Tenggara, serta pimpinan dari perguruan tinggi mitra.
Dalam momen bernilai strategis tersebut, Unimor hadir untuk menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan SEAMEO BIOTROP bersama dua perguruan tinggi lainnya, yakni Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Penandatanganan dari pihak Unimor dilakukan langsung oleh Dekan Fakultas Pertanian, Sains, dan Kesehatan (Faperta-SainKes) Unimor, Eduardus Y. Neonbeni, S.P., M.P., didampingi Koordinator Program Studi Agroteknologi Unimor, Andreas Kefi, S.P., M.Si., beserta staf Humas dan staf Prodi Agroteknologi.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Dr. Edi Santosa, S.P., M.Si., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun ke-11 bagi penguatan biologi tropis di kawasan Asia Tenggara. Meski sempat terancam oleh gangguan bencana erupsi gunung berapi dan kebakaran hutan di Indonesia, acara tetap berlangsung secara tatap muka dengan kehadiran para pemangku kepentingan regional.
Dalam pemaparannya, Prof. Edi menegaskan komitmen lembaga dalam merespons tantangan lingkungan global melalui pendekatan ilmu pengetahuan. “Sebagai bagian dari pengetahuan ilmiah kami, terdapat ‘Segitiga Emas’ konservasi keanekaragaman hayati yang mencakup pengurangan pemicu kepunahan, promosi keberadaan hayati, dan pemanfaatan secara berkelanjutan,” ujarnya saat memaparkan fokus strategis lembaga.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa forum ini dirancang bukan sekadar untuk menghasilkan dokumen formal, melainkan sebagai fondasi aksi nyata bagi Asia Tenggara. “Kami memandang pertemuan ini bukan sekadar untuk menghasilkan dokumen perencanaan, melainkan sebuah kerangka strategis bagi pengembangan BIOTROP dan kontribusinya bagi Asia Tenggara di masa depan,” tegas Prof. Edi dalam pembukaan forum tersebut sebelum mengakhiri sambutan dengan menyampaikan apresiasi serta ajakan untuk mempererat kolaborasi regional.
Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Ir. Suharti, M.A., Ph.D., dalam arahannya turut menegaskan peran strategis SEAMEO BIOTROP dalam mengatasi krisis lingkungan dan ketahanan pangan di Asia Tenggara melalui hilirisasi hasil riset. Ia menggarisbawahi bahwa hasil penelitian harus membawa dampak nyata dan tidak berhenti pada tataran akademis belaka. “Pengetahuan memiliki nilai terbatas saat tersisa di laboratori, jurnal, atau di jalan konferensi,” tegas Suharti saat menyampaikan arahan utama.
Untuk mencapai perubahan di lapangan, lembaga menawarkan tiga langkah prioritas: mendekatkan sains ke sekolah, memperkuat ilmuwan muda, serta berfokus pada isu regional yang krusial. Indonesia sebagai negara tuan rumah juga berkomitmen penuh mendukung program tersebut demi terwujudnya solusi praktis bagi masyarakat. “Tugas sebelum menemukan kode adalah untuk mengubahnya menjadi kontribusi regional yang lebih tepat dengan hasil yang jelas,” tambahnya guna mendesak pentingnya transformasi riset menjadi aksi nyata yang dapat memberikan manfaat langsung bagi pendidik, pelajar, dan masyarakat luas.
Menanggapi kerja sama ini, Dekan (Faperta-SainKes) Unimor, Eduardus Y. Neonbeni, saat dihubungi usai kegiatan mengungkapkan bahwa penandatanganan PKS dengan SEAMEO BIOTROP merupakan upaya membangun kolaborasi di seluruh program studi yang ada di FAPERTASAINKES Unimor. Kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja tiap prodi dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang konservasi dan pelestarian biodiversitas lokal semi-arid yang menjadi penciri Unimor sesuai pola ilmiah pokok universitas, yakni pengembangan pertanian lahan kering di wilayah perbatasan RI-RDTL (Republik Indonesia – Timor Leste). “Kita bersyukur karena pada momen ini, kita juga dapat menjajaki kerjasama yang kedepan dapat kita bangun dengan perguruan tinggi lain, baik yang ada di dalam negeri maupun luar negeri yg tergabung dalam wadah SEAMEO Biotrop ini, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Timor Leste dan negara-negara lain se-Asia Tenggara,” pungkas Eduardus.




