Home Berita Unimor Resmi Kukuhkan Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si Sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Perencanaan Pembangunan Wilayah

Unimor Resmi Kukuhkan Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si Sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Perencanaan Pembangunan Wilayah

by | May 11, 2026 | Berita

Universitas Timor (Unimor) resmi kukuhkan Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Perencanaan Pembangunan Wilayah Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Sains dan Kesehatan Universitas Timor (Unimor). Acara yang berlangsung khidmat ini dilaksanakan di Gedung Bale Biinmaffo Kefamenanu pada tanggal 10 April 2026 lalu.

Prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh Rektor Unimor Dr. Ir. Stefanus Sio, M.P. dirangkaikan dengan pengalungan tanda Guru Besar (gordon) oleh Ketua Dewan Guru Besar Unimor Prof. Dr. Sirilius Seran, S.E., M.S.

Dalam pidato pengukuhan dan penyampaian orasi ilmiah yang berjudul Dampak Keterkaitan Wilayah dan Implikasinya Dalam Spatial Planning dan Pembangunan Wilayah, Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si., menyampaikan rasa syukur kapada Tuhan Yang Maha Kuasa, Senat Unimor, pimpinan universitas, pimpinan fakultas, rekan sejawat, keluarga serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam perjalanan akademiknya.

Iring-iringan Prof.Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si bersama keluarga menuju tempat pengukuhan

“Saya berharap, bidang kepakaran ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan bangsa, lebih khusus bagi peningkatan pembangunan di daerah melalui perencanaan pembangunan yang mampu meningkatkan pertumbuhan yang merata dan berkeadilan serta berkelanjutan,” tutur Prof. Weren dalam sambutannya.

Ketua Dewan Guru Besar Unimor Prof. Dr. Sirilius Seran, S.E., M.S., pada kesempatan ini  menyampaikan profisiat kepada yang amat terpelajar Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si yang sudah dikukuhkan dan menjadi bagian dari Dewan Guru Besar Unimor.

“Bapak ibu dan saudara-saudara sekalian jabatan guru besar atau profesor itu adalah jabatan akademik tertinggi di universitas. Di perguruan tinggi, karena dia adalah jabatan tertinggi, maka hampir pasti semua dosen yang ada di perguruan tinggi manapun mengimpikan untuk suatu saat menjadi seorang profesor. Tetapi untuk mendapatkan profesor, kendalanya sangat berat, tantangannya sangat berat, syaratnya sangat berat,” urai Prof. Sirilius.

Mereka harus minimal mengumpulkan 850 angka kredit minimal. 850 angka kredit itu tersebar dalam tri dharma perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Yang paling sulit itu adalah dalam bidang penelitian. Sulitnya adalah seorang profesor, dia harus mampu menembus persaingan di bidang penelitian di dunia internasional. Karya-karyanya mesti diterbitkan di jurnal internasional dan jurnalnya bukan abal-abal tapi harus Scopus, Q1, Q2, Q3 dan Q4. Ditambah lagi bahwa dia harus minimal menjadi dosen kurang lebih 15 tahun, baru bisa menjadi seorang guru besar.

“Bapak ibu dan saudara sekalian, betapa beratnya untuk menjadi seorang guru besar. Pertanyaannya mengusik kita adalah apakah tugas seorang guru besar itu beda dengan dosen pada umumnya?. Guru besar dan dosen sama-sama melakukan tugas tri dharma yakni mengajar, meneliti, dan mengabdi,” papar Prof. Sirilius.

Pengalungan tanda Guru Besar (gordon) oleh Ketua Dewan Guru Besar Unimor Prof. Dr. Sirilius Seran, S.E., M.S.

Terus bedanya apa dengan dosen pada umumnya? Dalam bidang pengajaran, seorang guru besar dituntut untuk terus memperluas, memperdalam, dan memperbarui disiplin ilmu yang menjadi bidang kepakarannya. Biasanya kalau kita lihat di sejarah-sejarah pemikiran terdahulu ada masyarakat, ada aliran, dan seterusnya, itu muncul dari orang-orang yang masuk dalam konsep profesor ini. Mereka pada akhirnya menjadi seorang untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Yang kedua, guru besar tidak hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga membangun karangka pikir yang khas dan berpengaruh. Dari sinilah lahir tradisi ekonomi, tradisi akademik, arah penelitian, serta identitas keilmuan yang bisa ditawarkan kepada generasi berikutnya.

Yang ketiga, seorang guru besar harus hadir sebagai referensi ilmiah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pemikirannya menjadi acuan, karyanya dikutip, dan pandangannya menjadi bagian dari diskursus akademik yang lebih luas. Guru besar menjadi sumber rujukan akademik.

Keempat, seorang guru besar berada di garis depan perkembangan ilmu pengetahuan. Ia dituntut untuk menjelajahi batas-batas pengetahuan, menghasilkan temuan baru serta menjawab tantangan zaman melalui pendekatan inovatif dan solutif. Dia adalah sumber inovasi. Dia menembus batas-batas keilmuan.

Kelima, ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang akademik. Guru besar memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa keilmuannya berdampak pada penyelesaian persoalan real, baik lokal, nasional maupun global. Kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan mutlak perlu dari seorang guru besar. Jika kita meringkas, dosen mengajar ilmu, peneliti mengembangkan ilmu, tetapi profesor memberi arah dan makna bagi ilmu itu sendiri.

“Hadirin yang berbahagia, pengukuhan guru besar bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab intelektual yang lebih luas, gelar ini menuntut konsistensi, integritas, serta keberagaman untuk terus berpikir melampaui batas,” ungkap Prof. Sirilius di akhir sambutan.

Barisan undangan VIP pada acara pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si

Sementara itu, Wakil Bupati Timor Tengah Utara (TTU) dalam sambutan yang dibacakan oleh Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten TTU, Drs. Kristoforus Ukat, M.M., atas nama pribadi dan Pemerintah Daerah Kabupaten TTU menyampaikan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya dengan penuh hormat dan rasa bangga kepada Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si., atas pengukuhan sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Perencanaan Pembangunan Wilayah.

“Pencapaian ini bukan hanya merupakan prestasi akademik personal yang membanggakan, tetapi juga menjadi tonggak penting bagi kemajuan Unimor serta pembangunan ilmu pengetahuan di daerah kita. Pencapaian ini juga adalah pengukuhan tanggung jawab moral dan intelektual untuk terus setia pada kebenaran, pada ilmu dan pada kemanusiaan,” ungkap Wakil Bupati TTU dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten TTU.

Disampaikan pula bahwa dalam perspektif pembangunan daerah, kehadiran seorang Guru Besar Bidang Kepakaran Perencanaan Pembangunan Wilayah memiliki arti yang sangat strategis. Tantangan Pembangunan di wilayah perbatasan bersifat mutdidimensional karena tidak semata-mata berbicara tentang pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga mencakup aspek pemerataan, keberlanjutan serta penguatan kapasitas lokal.

Secara teoritis dan empiris, perencanaan wilayah merupakan instrument krusial dalam mengintegrasikan berbagai dimensi Pembangunan guna meminimalisir disparitas antar wilayah. Oleh karena itu, pemerintah daerah sangat membutuhkan kontribusi pemikiran ilmiah yang berbasis riset sebagaimana yang dihasilkan oleh para akademisi untuk merumuskan kebijakan Pembangunan yang tepat sasaran, adaptif dan berkeadilan.

Lebih lanjut, pengukuhan Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si., sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Perencanaan Pembangunan Wilayah memiliki signifikansi yang sangat strategis bagi akselerasi pembangunan di Kabupaten TTU. Bidang kepakaran Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si., sangat relevan dengan misi kami dalam membangun Kawasan Strategis Daerah dan Program Prioritas Daerah yaitu Pembangunan Kota Kefamenanu sebagai Kota BERADAT (Bersih, Agamais, Damai, Aman dan Tenteram).

Dalam konteks tersebut, sinergi antara Pemerintah Kabupaten TTU dan perguruan tinggi dalam hal ini Unimor menjadi suatu keniscayaan. Kami memandang Unimor sebagai mitra strategis dalam menghasilkan kajian ilmiah, inovasi serta rekomendasi kebijakan yang berbasis data dan analisis yang komprehensif.

“Kepada Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si.,semoga momentum pengukuhan ini hendaknya juga menjadi inspirasi bagi seluruh dosen  dan generasi akademisi muda untuk terus meningkatkan kualitas diri, mengembangkan keilmuan serta menghasilkan karya-karya inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Untuk pengukuhan ini, kita sedang menyalakan sebuah cahaya, cahaya ilmu, cahaya kebenaran dan cahaya harapan. Semoga Cahaya ini tidak hanya bersinar di ruang akademik, tetapi juga menjangkau desa-desa, ladang-ladang, sekolah-sekolah di setiap sudut kehidupan masyarakat TTU,” pinta Wakil Bupati TTU melalui Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten TTU.

Selanjutnya, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., A.Pt. atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi NTT mengucapkan selamat atas pencapaian akademik tertinggi yang diterima oleh Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutan resmi yang dibacakan Kepala Inspektorat Propinsi NTT, Stefanus F. Halla, S.T., M.M., CGCAE. pada kesempatan pengukuhan Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si.

Gubernur NTT mengungkapkan bahwa pembangunan daerah bukan sekadar deretan angka pertumbuhan ekonomi atau deretan infrastruktur fisik yang menjulang. Pembangunan adalah sebuah proses dialektika antara visi politik, kebutuhan praktis masyarakat, dan fondasi epistemologis yang kuat.

Di Provinsi NTT, tantangan pembangunan memiliki karakteristik unik: mulai dari kompleksitas geografis kepulauan, kerentanan iklim, hingga posisi strategis sebagai beranda terdepan negara. Dalam konteks ini, eksistensi Unimor di Kabupaten TTU bukan hanya sebagai lembaga pencetak sarjana, melainkan sebagai pusat keunggulan (center of excellence) melalui peran Guru Besar di bidang kepakaran Perencanaan Pembangunan Wilayah.

Secara geografis, Unimor terletak di daerah perbatasan langsung dengan Distrik Oecusse, Timor Leste. Hal ini memberikan dimensi khusus bagi pakar perencanaan pembangunan wilayah di sana. Pembangunan di NTT tidak bisa dilepaskan dari konsep Pembangunan Berbasis Perbatasan. Para Guru Besar di Unimor memiliki peran strategis dalam merumuskan model pembangunan yang mampu mengubah halaman belakang menjadi beranda depan.

Pembangunan NTT membutuhkan fokus pada sektor-sektor yang menyentuh akar rumput. Kepakaran perencanaan wilayah di Unimor sangat relevan dalam mengawal inisiatif-inisiatif strategis pemerintah provinsi, seperti Transformasi Pendidikan Vokasi (SMK). Melalui konsep “One School One Product“, Guru Besar Perencanaan Pembangunan Wilayah dapat membantu mengidentifikasi potensi wilayah yang bisa dikembangkan oleh institusi pendidikan.

Barisan keluarga Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si., saat acara pengukuhan

Jika sebuah wilayah di TTU memiliki potensi lahan untuk tanaman kelor, maka perencanaan wilayah akan merekomendasikan kurikulum vokasi yang selaras dengan industri pengolahan kelor tersebut. Selain itu, NTT memiliki potensi panas bumi (geothermal), energi surya, dan angin yang melimpah. Kepakaran perencanaan pembangunan wilayah sangat dibutuhkan untuk menyusun roadmap transisi energi yang berkelanjutan, memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam tetap menjaga kelestarian ekosistem hutan dan mitigasi bencana kebakaran hutan.

Pada akhirnya, hubungan antara Guru Besar kepakaran Perencanaan Pembangunan Wilayah di Universitas Timor dengan pembangunan di Provinsi NTT adalah hubungan simbiotik-mutualisme. Unimor memberikan otak dan kompas bagi arah pembangunan, sementara Provinsi NTT menyediakan tubuh dan ruang bagi implementasi gagasan-gagasan tersebut.

Dengan mengoptimalkan peran para intelektual ini, pembangunan di NTT tidak akan lagi bersifat top-down yang kaku, melainkan menjadi pembangunan yang partisipatif, berbasis riset, dan adaptif terhadap dinamika global.

“Keberadaan guru besar dan para akademisi di Unimor adalah jaminan bahwa masa depan NTT direncanakan dengan akal sehat, hati yang peduli pada rakyat, dan visi yang melampaui batas-batas administrasi wilayah untuk mewujudkan NTT yang Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera dan Berkelanjutan,” ucap Gubernur diakhir sambutan yang dibacakan Kepala Inspektorat Propinsi NTT.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Unimor Dr. Ir. Stefanus Sio, M.P. dalam sambutannya menyampaikan selamat atas nama sivitas akademika kepada Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si. dan keluarga yang hadir pada pengukuhan tersebut.

“Dengan pengukuhan guru besar ini, Unimor sudah mulai mengarah pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan kualitas sumber daya manusia yang unggul pasti berkorelasi dengan kemajuan pembangunan daerah baik di provinsi maupun di kabupaten ,” ujar Rektor.

Perlu saya informasikan, lanjut Rektor, jumlah dosen di Unimor pada tahun ini sebanyak 315 orang. Dengan kisaran S3 atau doktor sebanyak 32 orang, S2 sebanyak 283 orang dan sedang berproses untuk melanjutkan studi. Kemudian dari jabatan fungsional, guru besar kita empat orang, lektor kepala sekarang ada 22, lektor sebanyak 160 orang dan asisten ahli sebanyak 122 orang serta tenaga pengajar sebanyak 7 orang. mereka ini siap berproses untuk menghadapi hal seperti yang kita jalani hari ini yakni pengukuhan guru besar dan kita berharap agar kedepan Unimor menjadi menyala sama dengan perguruan tinggi lain yang berada di tanah air.

Pose bersama Senat Unimor

Sesuai inisiatif strategis dan moto gerakan dari Kementereian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi  (Kemdiktisaintek) yakni Diktisaintek Berdampak dengan fokus utamanya adalah mentransformasi perguruan tinggi agar menghasilkan riset, inovasi dan lulusan yang memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional dan masyarakat maka Unimor harus berdampak melalui penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Peran riset itu penting, karena itu perlu ditingkatkan, diperbaiki, diwujudkan dalam pengajaran dan pengabdian untuk mengatasi persoalan atau permasalahan yang dihadapi daerah.

“Karena itu kepada profesor yang dikukuhkan, semoga peran riset harus ditingkatkan. Begitupun Dewan Guru Besar di Unimor harus berperan agar apa yang dicita-citakan oleh kementerian dapat ditindaklanjutkan perguruan tinggi terutama Unimor sebagai perguruan tinggi negeri yang betul-betul berdampak. Semoga kedepan peristiwa-peristiwa bermartabat ini  dapat terus kita lakukan sebagai penguat marwah institusi, meningkatkan kualitas dan wibawa universitas serta menegaskan peran perguruan tinggi sebagai pusat ilmu pengetahuan.” pungkas Rektor di akhir sambutan.

Dengan pengukuhan Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si., Unimor sejauh ini telah memiliki empat orang guru besar setelah sebelumnya Prof. Dr. Sirilius Seran, S.E., M.S., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Prof. Dr. Ir. Charles Venirius Lisnahan, S.Pt., M.P., IPU., dan Prof. Dr. Ir. Paulus Klau Tahuk, S.Pt., M.P., IPU., keduanya berasal dari Fakultas Pertanian, Sains, dan Kesehatan.

Hadir pada kesempatan pengukuhan ini perwakilan Gubernur NTT, perwakilan Bupati TTU, perwakilan Bupati Belu, perwakilan Bupati Malaka, perwakilan Dekan Fakultas Vokasi Unhan Ben Mboy Belu, perwakilan Rektor Undana Kupang, perwakilan LLDIKTI Wilayah XV Kupang, Ketua DPRD TTU, perwakilan Kapolres TTU, Kepala Kejari Kefamenanu, perguruan tinggi mitra, BUMN mitra para dosen serta tenaga kependidikan di lingkungan Unimor serta tamu undangan lainnya.

Pose bersama Prof. Dr. Werenfridus Taena, S.P., M.Si., dengan para undangan VIP

Post Terkait